Virus Corona Varian Delta: Gejala, Penularan hingga Pemulihan

- Jumat, 16 Juli 2021 | 07:02 WIB
Ilustrasi (Pixabay)
Ilustrasi (Pixabay)

TEBET, AYOJAKARTA -- dr. Indra Yovi, SpP (K), Dokter Spesialis Paru & Pernapasan Eka Hospital Pekanbaru mengatakan, tren kasus Covid-19 di Indonesia terus meningkat sejak akhir Mei 2020. Saat ini, Covid-19 disertai munculnya Virus Corona Varian Delta.

Virus Corona Varian Delta memiliki nama kode B.1.617.2 dan pertama kali terdeteksi di India pada akhir 2020. Penelitian menunjukan bahwa Varian Delta dikaitkan dengan risiko penularan yang diperkirakan 60 persen lebih tinggi daripada Varian Alfa, yang sudah jauh lebih menular daripada versi asli virus.

Jumlah kasus rawat inap pun meningkat akibat varian ini, tak terkecuali di Indonesia. Sebagian orang mungkin masih asing dengan Delta Covid-19.

Apakah gejalanya sama dengan virus varian pertama?

Menurut dr. Indra, Varian Delta merupakan perkembangan lebih lanjut dari mutasi SARS CoV-2. Varian ini lebih banyak ditemukan pada dewasa muda.

Varian Delta menghasilkan penyakit lebih berat. Efektivitas vaksin terhadap Varian Delta lebih rendah dalam mencegah Covid-19 bergejala. Satu dosis vaksin AZ atau Prizer hanya 33 efektif tehadap Delta (50 persen terhadap Alfa), sedangkan 2 dosis vaksin AZ 60 persen efektif terhadap delta.

Bagaimana cara Virus Varian Delta menular?
Virus bisa menular dengan beberapa cara, antara lain:
• Transmisi droplet, sangat ditekankan dalam penggunaan masker.
• Transmisi udara (aerosol), sangat disarankan untuk melakukan kegiatan seperti rapat
di dalam ruangan terbuka dan tetap menggunakan masker.
• Transmisi fomit, sangat ditekankan untuk pentingnya melakukan cuci tangan.

Apa saja gejalanya?
Gejala Covid-19 Varian Delta sangat bervariasi mulai dari gejala yang ringan hingga yang kritis.
1. Gejala ringan berupa demam, batuk, nyeri tenggorokan, anoreksia, dan sakit kepala.
2. Gejala sedang, meliputi gejala pneumonia (demam, batuk, sesak nafas, nafas cepat).
3. Gejala berat seperti demam ditambah salah satu dari frekuensi nafas >30x/menit,
distres pernafasan, saturasi oksigen 93 persen tanpa bantuan oksigen.

Kapan harus memeriksakan diri untuk PCR?
Swab PCR menjadi cara untuk mengetahui kondisi kesehatan terkait Covid-19. Lalu kapan waktu yang tepat untuk melakukan tes Covid-19 ini?
1. Setelah kontak erat dengan pasien Covid-19
Dikatakan kontak erat apabila bertatap muka dengan pasien Covid-19 atau gejala kemungkinan Covid-19 dalam radius 1 meter selama 15 menit atau lebih. Kemudian bersentuhan fisik dengan pasien Covid-19 atau gejala kemungkinan Covid-19, serta perawatan pasien atau gejala kemungkinan Covid-19 tanpa menggunakan APD standar.

Halaman:

Editor: Husnul Khatimah

Tags

Terkini

3 Gejala Kamu Alami Intoleransi Laktosa

Kamis, 16 September 2021 | 11:51 WIB

Ini Manfaat Konsumsi Cabai Hijau untuk Kesehatan

Rabu, 15 September 2021 | 17:59 WIB

Ketahui Efek Baik dan Buruk Konsumsi Yoghurt

Rabu, 15 September 2021 | 16:35 WIB

Ini 4 Tanda Skincare yang Dipakai Cocok untuk Kulitmu!

Rabu, 15 September 2021 | 11:58 WIB

Lakukan 6 Hal Ini Agar Mood Anda di Pagi Hari Lebih Baik

Selasa, 14 September 2021 | 07:50 WIB

Tips Mudah Hindari Gigi Ngilu karena Sensitif

Senin, 13 September 2021 | 16:06 WIB

5 Manfaat Kesehatan Bernyanyi

Senin, 13 September 2021 | 14:18 WIB

Mitos dan Fakta Tentang Madu

Senin, 13 September 2021 | 14:07 WIB

Studi: Masker Kain Bertahan Lama Tangkal Virus Corona

Senin, 13 September 2021 | 09:01 WIB

Ini 6 Manfaat Madu Mentah untuk Kesehatanmu!

Sabtu, 11 September 2021 | 16:19 WIB

Benarkah Tak Sarapan Bisa Turunkan Berat Badan?

Jumat, 10 September 2021 | 06:08 WIB
X