Beban Penyakit Kanker Meningkat, BPJS Kesehatan Diharapkan Tingkatkan Kualitas Penatalaksanaan

- Selasa, 16 Juli 2019 | 16:05 WIB
Keterangan Foto 4 : Kiri ke Kanan - Dr. Ronald A. Hukom, MHSc, SpPD KHOM, FINASIM, Dr. A. Hamid Rochanan, SpB-KBD, MKes, dan Aryanthi Baramuli Putri pada saat sesi tanya jawab dalam acara Media Briefing CISC “Penatalaksanaan Kanker di Era BPJS Kesehatan” pada Senin, 15 Juli 2019. (ayojakarta.com/Istihanah Soejoethi)
Keterangan Foto 4 : Kiri ke Kanan - Dr. Ronald A. Hukom, MHSc, SpPD KHOM, FINASIM, Dr. A. Hamid Rochanan, SpB-KBD, MKes, dan Aryanthi Baramuli Putri pada saat sesi tanya jawab dalam acara Media Briefing CISC “Penatalaksanaan Kanker di Era BPJS Kesehatan” pada Senin, 15 Juli 2019. (ayojakarta.com/Istihanah Soejoethi)

JAKARTA PUSAT, AYOJAKARTA.COM--Program JKN telah membuka akses terhadap diagnosis dan terapi kanker, namun akses terhadap penatalaksanaan kanker yang sesuai standar medis perlu perbaikan mendesak agar pasien kanker bisa mendapatkan haknya atas pelayanan kesehatan berkualitas, dan dokter juga bisa memberikan penatalaksanaan sesuai dengan standar medis.

Banyaknya hambatan pasien untuk mendapatkan akses pengobatan yang diperlukan mendorong Cancer Information & Support Center (CISC) mengadakan kegiatan diskusi interaktif dengan media hari ini (15/07/2019) di Jakarta, dengan tema “Penatalaksanaan Kanker di Era BPJS Kesehatan” untuk memberikan pemahaman yang tepat mengenai perkembangan standar penatalaksanaan kanker serta tantangan dan peluang untuk dapat mengadopsinya dalam program JKN. Kegiatan ini diharapkan mendorong seluruh pemangku kepentingan untuk bertindak bersama agar pasien kanker bisa mendapatkan haknya atas pelayanan kesehatan berkualitas, dan para dokter juga bisa memberikan pengobatan yang sesuai standar medis.

Data dari Globocan 2018 menyatakan ada 348.809 orang penderita kanker baru dalam satu tahun di seluruh Indonesia (kanker payudara sekitar 58.000 kasus, kanker leher rahim 32.000, kanker paru 30.000, kanker usus besar 30.000), dengan 207.000 kematian akibat kanker. Apabila penyakit kanker tidak ditangani secara menyeluruh dengan tepat, mulai dari program pencegahan primer dan deteksi dini sampai terapi yang berbasis bukti (evidence-based), maka dikemudian hari akan membebani negara secara ekonomi dan sosial.

“Pandangan puluhan tahun yang lalu bahwa kanker merupakan penyakit yang tidak dapat disembuhkan adalah salah. Di Amerika dan Eropa, dalam 40 tahun terakhir, angka kesembuhan pada banyak jenis kanker meningkat tajam," ujar Dr. Ronald A. Hukom, MHSc, SpPD KHOM, FINASIM, ahli penyakit dalam dan onkologi medik dan Ketua Perhimpunan Hematologi Onkologi Medik Penyakit Dalam (PERHOMPEDIN) DKI Jakarta.

Lebih lanjut dr.Ronald mengatakan bahwa di Inggris, kanker payudara saat ini memiliki tingkat kesintasan 10 tahun sekitar 80% sejak diagnosis ditegakkan. Untuk kanker prostat, yang merupakan kanker utama pada pria, sekitar 84% penderitanya masih hidup sesudah 10 tahun dinyatakan sakit (dibanding hanya 25% pada tahun 1970-71). Ada kelompok pasien leukemia kronik yang sejak diagnosis ditegakkan, masih lebih dari 90% bertahan hidup dalam 10 tahun. Berbagai angka yang hampir sama sudah terlihat di beberapa negara Asia seperti Jepang dan Korea Selatan. Untuk kanker stadium lanjut, hasil pengobatan juga semakin baik. Misalnya, kanker payudara stadium 4 (metastatic breast cancer) yang 30 tahun lalu tidak sampai 20% pasien masih bertahan hidup sesudah 5 tahun, saat ini pada kelompok tertentu (HER2 positif) bisa memiliki harapan hidup 50% lebih dari 5 tahun.   

Dengan perkembangan tersebut, sangat penting bagi Pemerintah untuk bersama-sama seluruh pemangku kepentingan mengupayakan agar penatalaksanaan kanker yang sesuai dengan perkembangan standar medis bisa diakses pasien yang memerlukan, terutama melalui program JKN.

“Banyak warganegara kita yang masih berobat ke Cina, Malaysia, dan Singapura karena menganggap mutu pengobatan kanker di Indonesia belum memuaskan. Ratusan triliun rupiah dihabiskan, padahal angka ini sebetulnya bisa ditekan bila Kementerian Kesehatan bersama BPJS, bisa terus melakukan berbagai perbaikan dalam sistem pelayanan kesehatan, termasuk untuk kanker,” lanjut dr. Ronald Hukom. 

Sebuah studi menyebutkan, setiap tahun diperkirakan Indonesia mengalami kerugian US$48 milyar karena pasien yang berobat keluar negeri. “Mungkin hanya diperlukan dana 3 - 5% dari yang dibawa pasien ke luar negeri dalam 5-10 tahun terakhir, untuk membangun beberapa pusat kanker modern dengan fasilitas diagnostik dan terapi lengkap di Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Tidak perlu semua pasien kanker dirujuk ke Jakarta,” kata dr. Ronald Hukom.

Menutup penjelasannya, dr. Ronald Hukom menegaskan perlu segera dibuat sistem audit pemakaian obat kanker (bukan Audit Medik) untuk meningkatkan kualitas pelayanan bagi penderita kanker. Dalam 5 tahun pelaksanaan program JKN (2014-2019), belum pernah ada Audit secara khusus pada pemakaian obat kanker, yang meneliti apakah rumah sakit dan BPJS Kesehatan di semua daerah / propinsi sudah mengikuti restriksi yang ditentukan dalam Formularium Nasional. Secara khusus dr. Ronald Hukom menyoroti kasus pencabutan dua obat terapi target untuk kanker kolorektal dari Formularium Nasional (Fornas), sehingga pasien tidak bisa lagi mendapatkan obat yang diperlukan tersebut. 

"Audit pemakaian obat kanker secara berkala akan membantu menyelamatkan miliaran rupiah dana JKN, dan penderita kanker yang memang membutuhkan obat ‘mahal’ tertentu untuk hasil terapi yang lebih baik, tidak dirugikan karena obat yang diperlukan tidak dijamin oleh BPJS,” pungkasnya.

Editor: Rizma Riyandi

Tags

Terkini

Rekomendasi dan Tips Pemakaian Masker pada Anak-anak

Minggu, 24 Oktober 2021 | 17:28 WIB

Suntik Booster Vaksin Perlu atau Tidak? Ini Kata WHO

Minggu, 24 Oktober 2021 | 15:26 WIB

6 Cara Meredakan Kram Saat Menstruasi

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 12:25 WIB

Diet Ekstrem Ala Kpop Idol yang Akan Membuatmu Kaget!

Senin, 11 Oktober 2021 | 15:53 WIB

Hati-hati, Sakit Gigi Bisa Sebabkan Diabetes

Rabu, 6 Oktober 2021 | 06:47 WIB

5 Mitos Soal Diabetes yang Banyak Dipercaya Orang

Selasa, 5 Oktober 2021 | 06:25 WIB

Ini 7 Camilan yang Cocok Buat Program Diet

Jumat, 1 Oktober 2021 | 09:06 WIB

Dokter Bagikan Rumus Tertidur Nyenyak Sepanjang Malam

Rabu, 29 September 2021 | 08:32 WIB

4 Jenis Karbohidrat Ini Baik untuk Turunkan Berat Badan

Selasa, 28 September 2021 | 12:54 WIB

Cara Cepat Turunkan Berat Badan Tanpa Olahraga

Senin, 27 September 2021 | 13:51 WIB
X