Ancaman Kebiri Pemerkosa di Rumah Aman Lampung Timur

- Senin, 6 Juli 2020 | 21:59 WIB
ilustrasi perkosaan/ shutterstock
ilustrasi perkosaan/ shutterstock

LAMPUNG TIMUR, AYOJAKARTA.COM - DA, pelaku pemerkosa anak di bawah umut, NF (14), kini dihantui hukuman kebiri. Pelaksana Tugas (PLT) Kepala Pusat Pelayanan Terpadu Perempuan dan Anak (P2TP2A) Lampung Timur itu memperkosa korban perkosaan, bahkan menjualnya kepada lelaki lain untuk melakukan hubungan badan saat korban melakukan pemulihan trauma psikologis di Rumah Aman.

Deputi Perlindungan Anak KemenPPPA, Nahar mengatakan, mereka yang seharusnya melindungi tapi malah menjadi pelaku kekerasan seksual haruslah mendapat pemberatan hukuman. Hal ini sesuai dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2016 yang juga diinisiasi KemenPPPA tentang Perlindungan Anak.

"Tentu KemenPPPA yang menginisiasi regulasi, tentu terakhir itu menggunakan Undang-Undang Nomor 17 tahun 2016, pengesahan dari Perpu Nomor 1 Tahun 2016 tentang pemberatan hukuman, khususnya untuk terkait persetubuhan dan pencabulan terhadap anak," ujar Nahar saat dihubungi suara.com, Senin (6/7/2020).

AYO BACA : Jadi Korban Pemerkosaan dan Ikut Pemulihan Trauma, NF Malah Diperkosa Kepala P2TP2A Lampung Timur

Dalam undang-undang itu disebutkan pelaku kekerasan seksual terhadap anak terancam denda paling banyak Rp 5 miliar, ditambah pidana maksimal 15 tahun dan paling sedikit 5 tahun.

Hukuman ini diberikan kepada 8 pihak yang sangat dicela jika jadi pelaku kekerasan seksual pada anak. Mereka adalah orang terdekat seperti orang tua, wali, orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga, pengasuh anak, pendidik, tenaga kependidikan, aparat yang menangani perlindungan anak, atau dilakukan oleh lebih dari satu orang secara bersama-sama.

"Ada 8 pihak yang tidak boleh melakukan kekerasanan seksual. 8 orang itu dia melakukan, dan dilakukannya berulang kali, maka dia terancam pemberatan hukuman, termasuk hukuman mati," ujar Nahar.

AYO BACA : Kasus Perkosaan di Rumah Aman Lampung, KPAI Sebut Bukan Kasus yang Pertama

Masih menurut UU Perlindungan Anak, jika kekerasan seksual itu dilakukan berkali-kali mengakibatkan luka berat, gangguan jiwa, penyakit menular, terganggu atau hilangnya fungsi reproduksi, bahkan korban hingga meninggal dunia, pelaku dipidana mati, seumur hidup, atau pidana penjara paling singkat 10 tahun dan paling lama 20 tahun.

Halaman:

Editor: Fitria Rahmawati

Tags

Terkini

Kick-Off Program Pemberdayaan PNM Tahun 2022

Jumat, 7 Januari 2022 | 14:40 WIB
X