Pushidrosal Temukan Bahaya Pelayaran di Selat Bangka, Ini Penyebabnya

- Rabu, 15 September 2021 | 17:09 WIB
Komandan Pushidrosal Laksamana Madya TNI Agung Prasetiawan saat konferensi pers terkait penemuan kerangka kapal di Selat Bangka yang membahayakan keselamatan navigasi dan pelayaran/dok: Aini Tartinia.
Komandan Pushidrosal Laksamana Madya TNI Agung Prasetiawan saat konferensi pers terkait penemuan kerangka kapal di Selat Bangka yang membahayakan keselamatan navigasi dan pelayaran/dok: Aini Tartinia.

TANJUNG PRIOK, AYOJAKARTA - Pusat Hidrologi dan Oseanografi TNI AL (Pushidrosal) menemukan kerangka kapal pada kedalaman 7,5 meter di Selat Bangka yang membahayakan bagi keselamatan navigasi dan pelayaran. 

Komandan Pushidrosal Laksamana Madya TNI Agung Prasetiawan mengatakan temuan tersebut berawal dari laporan United Kingdom Hydrographic Office (UKHO) tentang adanya kapal MV Hyundai Anterp berbendera Marshall Island pada November 2020 dan MV Posidana berbendera Norwegia pada Februari 2021 yang keduanya bergesekan dengan dasar laut (touching bottom atau grounding).

Atas pertimbangan kepentingan keselamatan navigasi dan pelayaran, Pushidrosal mengirimkan Tim Survei Tanggap Segera dan KRI Pollux-935 untuk melaksanakan survei investigasi di Selat Bangka pada lokasi tersebut.

"Dengan menggunakan multibeam echosounder, ditemukan ada kerangka kapal pada kedalaman 7,5 meter di lokasi tersebut, panjang kapal 132 meter, lebar 15 meter dan telah ditumbuhi terumbu karang," ujar Agung didampingi pejabat Pushidrosal saat konferensi pers di Dermaga Jakarta International Container Terminal (JICT), Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (15/9/2021).

Agung melanjutkan, temuan ini berada di sekitar recommended track alur pelayaran Selat Bangka, sehingga berpotensi membahayakan perlintasan pelayaran pada alur tersebut. Terkait dengan hasil temuan Tim Survei Tanggap Segera, Pushidrosal pun langsung menerbitkan pembaruan BPI minggu ke-34.

"Pembaruan tentang perubahan penggantian data lama yang semula 8,6 meter jadi 7,5 meter pada Agustus 2021, sekaligus cell ENC pada wilayah perairan tersebut dan diterbitkan pada akhir bulan kemarin," jelas Agung.

Sementara dengan peralatan Sidescan Sonar dan juga konfirmasi visual menggunakan Remotely Operated Vehicle (ROV), kapal itu adalah MV Pagaruyung yang tenggelam pada September 2003 lalu. "Nanti Kemenhub yang akan menindaklanjuti soal posisi kapal ini yang sudah ada banyak terumbu karang," ungkap Agung.

Diketahui, wilayah perairan nasional merupakan alur pelayaran strategis dan sebagian merupakan alur pelayaran yang padat lalu lintas pelayarannya. Selat Bangka juga merupakan salah satu Selat prioritas pemerintah sebagaimana tercantum dalam Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2017 tentang Kebijakan Kelautan Indonesia (KKI).

Pushidrosal, kata Agung, secara bertahap akan terus melaksanakan pemutakhiran data peta navigasi dan pelayaran melalui survei pemetaan hidro-oseanografi di sepanjang alur Selat Bangka.

Halaman:

Editor: Firda Puri

Tags

Terkini

Ancol Buka Lagi Besok, Perhatikan Syarat Masuknya!

Senin, 13 September 2021 | 17:58 WIB

Ancol Siap Dibuka Lagi, Ini Syaratnya!

Kamis, 9 September 2021 | 16:37 WIB

Warga Tenggelam di Danau Sunter Ditemukan Tewas

Senin, 9 Agustus 2021 | 16:47 WIB
X