ANAK PANCONG: Mukadimah (1)

- Rabu, 8 Juli 2020 | 21:15 WIB
Laksamana Muda TSNB Hutabarat/Istimewa
Laksamana Muda TSNB Hutabarat/Istimewa

Dear pembaca. Mulai awal Juli ini, redaksi ayojakarta.com menyajikan cerita tentang komunitas yang pernah dan masih eksis di Jakarta. Untuk edisi perdana, kami mengangkat cerita tongkrongan anak muda era 1980—1990-an di seputaran Rawamangun. Mereka menyebutnya dengan nama Anak Pancong. Kisah tongkrongan ini bahkan sudah dibukukan dengan judul yang sama, Anak Pancong: Semoga Yang Tersisa Makin Bermakna.

Oleh TSNB ‘Ucok-Cokky’ Hutabarat

Laksamana Muda Badan Keamanan Laut (Bakamla)

Jakarta di tahun 1980-an, kala becak masih menjadi transportasi andalan yang bisa mengantar penumpang hingga ke depan rumah masing-masing, bahkan memasuki gang di antara perumahan. Ketika opelet (yang kemudian diganti dengan mikrolet) menyebar di pelosok jalan yang tidak dijangkau oleh bus kota. Saat itu, walau warna warni taxi (kini ditulis dengan taksi) sudah memeriahkan jalan raya (ada kuningnya Presiden Taxi, hijaunya Morante dan putihnya Dian Taxi dll), bus kota masih menjadi kendaraan populer bagi masyarakat kota Jakarta.

Bus kota juga menjadi kendaraan utama para pelajar dan mahasiswa karena tergolong aman dan nyaman. Selain itu, ada harga khusus buat pelajar. Sangat beralasan jika transportasi Ibukota Indonesia kala itu masih dipenuhi oleh bus kota; ada PPD, Mayasari Bakti, dan Arion, yang menghubungkan antarwilayah dalam kota.

Tidak ketinggalan ada bus dalam bentuk lebih kecil berwarna oranye yang disebut Metromini. Berbeda dengan pengaturan tranportasi saat ini yang tumpang tindih, saat itu tiga jenis transportasi umum; mikrolet, Metromini dan bus kota mempunya rute yang berbeda, berdasarkan kelas jalan. Sehingga ketiga transportasi umum tersebut tidak saling berebut penumpang. Jika pun mereka berpapasan, hanya di perempatan jalan.

Pada masa itu, di Jalan Taman Jelita, Rawamangun berdiri bangunan sekolah dua lantai; SMP 74, kelak para siswa SMP 74 tersebut hampir 90 persen pindah ke SMA 31 di kawasan Kayu Manis, Jakarta Timur. Bukan sesuatu hal mengagetkan sih karena SMP 74 dan SMA 31 posisinya sebagai salah satu sekolah terbaik di Jakarta Timur.

Persahabatan di SMP 74 cukup akrab sehingga walau kami semua sudah berpencar di SMA masing-masing, namun keinginan selalu bertemu kembali terus terjaga hingga akhirnya kami memiliki sebuah tempat yang kemudian kami sebut Kafe Pancong dan mereka yang berkumpul di sana disebut Anak Pancong.

Kafe Pancong jadi tempat berkumpul kami karena memang lokasinya strategis. Bagi kami yang saat itu kebanyakan masih menggunakan kendaraan umum, maka terminal bus menjadi tempat yang cukup sering dikunjungi. Nah, di salah satu sudut Terminal Rawamangun ada kedai kopi yang juga menjual jajanan kue pancong. Lokasinya persis di pinggir trotoar dengan pemiliknya sepasang orang tua yang kemudian menjadi saksi pergaulan kami selama bertahun-tahun.

Halaman:

Editor: Eries Adlin

Tags

Terkini

Tata Cara Salat Hajat Agar Doa Terkabul

Kamis, 23 September 2021 | 13:25 WIB

Tes Kepribadian: Ketahui Seberapa Cerdas Dirimu

Kamis, 23 September 2021 | 09:37 WIB

Ingin Parfum Tahan Lama? Lakukan Cara Ini!

Senin, 20 September 2021 | 13:20 WIB

Tes Kepribadian: Cari Tahu Pesonamu di Mata Orang Lain

Senin, 20 September 2021 | 09:14 WIB
X