Karhutla Bersanding Pandemi Corona, ISPA dan Asma Bisa 2 Kali Lipat Beratnya

- Rabu, 24 Juni 2020 | 12:42 WIB
Anggota Komisi IV DPR, Andi Akmal Pasluddin
Anggota Komisi IV DPR, Andi Akmal Pasluddin

 

TEBET, AYOJAKARTA.COM -- Kebakaran hutan kembali marak di tanah air. Kali ini menjadi persoalan tidak biasa karena berbarengan dengan wabah COVID-19. 

Virus yang cenderung menyerang saluran pernapasan terutama paru-paru ini bila digabung dengan kejadian kebakaran hutan yang berdampak pada asap tebal, maka risiko kematian penderita penyakit corona akan lebih tinggi.

"Kebakaran hutan ini berlangsung tiap tahun. Besar kecil kebakaran akan selalu mengganggu lingkungan masyarakat karena terganggu pernafasannya. Semakin besar kebakaran, semakin luas dampaknya hingga keluar negara. Bila berbarengan dengan wabah virus corona ini,  sangat berbahaya sekali bagi penderitanya," ujar anggota Komisi IV DPR, Andi Akmal Pasluddin dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (24/7/2020.

Politisi PKS ini mengatakan, paparan virus corona dengan ada atau tidaknya kebakaran akan sama saja jangkauannya tergantung pengendalian pemerintah bersama masyarakat. Namun bila pada lingkungan yang terdampak kebakaran hutan dan lahan seperti Sumatera dan Kalimanatan, maka ancaman kematian akan semakin tinggi pada masyarakat yang terkena wabah ini.

Seperti yang dipaparkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), kemarau panjang mengalami puncaknya pada bulan Agustus 2020. Dan sejak April, 17 persen wilayah Indonesia sudah masuk musim kemarau. Akmal meminta pengendalian ekstra tinggi perlu dilakukan pada penanganan kebakaran hutan terutama pada giat pencegahannya.

"Koordinasi pemerintah pada pengendalian kabakaran hutan kali ini berhadapan pada risiko jatuhnya korban jiwa. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan asma akan menjadi dua kali lipat beratnya ketika bersandingan dengan corona. Kebijakan Anggaran pada penanganan kebakaran hutan ini mesti sinergi dengan pengendalian covid sehingga efektif dan efisien," tutur Akmal.

Akmal sangat berharap, pola yang dilakukan pemerintah berupa mengulang modifikasi cuaca dapat membuahkan hasil. Modifikasi cuaca dengan tujuan menurunkan hujan di wilayah gambut agar lahan tetap basah dan terhindar dari potensi terbakar menjadi harapan semua pihak. 

"Sudah ribuan titik hotspot bermunculan sejak Januari lalu di hampir seluruh wilayah yang menjadi langganan kebakaran hutan mulai dari Sumatera Selatan, Sumatera Barat hingga Riau. Semua berharap pemerintah kali ini mampu membuktikan kinerjanya dalam pengendalian kebakaran hutan ini sehingga rakyat bertambah rasa aman dalam berkehidupan di negeri ini," tutup Akmal.
 

Halaman:

Editor: Widya Victoria

Tags

Terkini

Kasus Pengadaan Tanah, Anies Dicecar 8 Pertanyaan di KPK

Selasa, 21 September 2021 | 16:47 WIB
X