Tantangan Profesi Wartawan di Tengah Wabah Covid-19

- Sabtu, 30 Mei 2020 | 16:27 WIB
[ilustrasi] Sejumlah jurnalis dan civitas Pemerintahan Kota Bandung saat bertugas di Gedung Balai Kota, Jalan Merdeka, Kota Bandung, Senin (6/4/2020).
[ilustrasi] Sejumlah jurnalis dan civitas Pemerintahan Kota Bandung saat bertugas di Gedung Balai Kota, Jalan Merdeka, Kota Bandung, Senin (6/4/2020).

JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Beban tugas profesi wartawan di tengah pandemi Covid-19 bertambah. Selain harus menyesuaikan kultur kerja, wartawan juga dihadapkan dengan persoalan lain seperti bertambahnya biaya operasional.

Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Abdul Manan. Menurutnya, saat ini wartawan dituntut untuk bekerja secara daring dalam mencari informasi untuk kemudian disajikan kepada khalayak. Kultur kerja seperti ini baginya punya beberapa tantangan.

"Ada tiga tantangan bekerja secara daring. Pertama soal kultur digital kita yang belum merata, kedua infrastruktur digital seperti koneksi internet yang belum tentu mendukung, dan ketiga adalah faktor biaya atau finansial," kata Manan dalam diskusi daring bertajuk "Jurnalisme di Era New Normal", Sabtu (30/5/2020).

Manan mengatakan, wartawan kerap terkendala dalam mewawancara narasumber lantaran kultur digital yang belum merata. Dia mencontohkan adanya narasumber yang tidak terbiasa diwawancarai dengan metode telekonferensi. Sehingga, wartawan kesulitan menggali informasi dari narasumber tersebut.

"Pertama soal kultur digital. Misalnya mungkin ada beberapa narasumber yang tidak begitu familiar untuk wawancara secara daring. Kemudian ada juga pejabat narsis yang ingin wawancara secara langsung, sehingga enggan diwawancara daring," jelasnya.

Kemudian perkara jaringan koneksi internet yang belum stabil. Hal ini menurut Manan cukup menghambat kerja jurnalisme. Dampaknya pun cukup besar terhadap kualitas berita yang disajikan kepada publik.

"Problem infrastruktur digital yang sering kita hadapi bahkan di Jabodetabek saja sering bermasalah dengan kualitas internet, apalagi di daerah terpencil. Nah jaringan internet ini cukup berdampak ya, misalnya sedang wawancara online namun sinyalnya kurang bagus, omongan narasumber bisa salah tafsir atau salah kita kutip," ungkapnya.

Persoalan ketiga bagi kerja wartawan adalah finansial. Kata Manan, untuk meliput agenda melalui telekonferensi pers membutuhkan kuota internet yang tak sedikit. Hal ini tentu berpengaruh terhadap bertambahnya biaya operasional untuk membeli kuota internet.

Manan mengungkapkan, persoalan finansial ini sangat terasa bagi kontributor media di daerah. Pasalnya, honor kontributor biasanya dihitung per berita. Menurutnya, honor per berita umumnya berada di kisaran Rp30 ribu sampai Rp100 ribu tergantung bobot berita. Dengan upah demikian, Manan menjelaskan, ada disparitas antara biaya operasional dengan upah yang didapat.

Halaman:

Editor: Budi Cahyono

Tags

Terkini

Penumpang KRL Turun 1 Persen Dibanding Pekan Lalu

Senin, 15 November 2021 | 18:13 WIB

Ini Persiapan Pemprov DKI Antisipasi Curah Hujan Tinggi

Minggu, 14 November 2021 | 20:59 WIB
X