Menengok Kehidupan Para Burung di Ibu Kota

- Rabu, 24 Juli 2019 | 09:47 WIB
Burung (weebly.com)
Burung (weebly.com)

JAKARTA PUSAT, AYOJAKARTA.COM--Kicauan merdu burung bersahut-sahutan jelas terdengar di balik rimbunnya pepohonan taman yang asri, disambut semilir angin, kian melengkapi sejuknya udara pagi.

Siapa sangka, keindahan ini bisa dinikmati hampir setiap hari di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, di tengah kota yang dikelilingi gedung-gedung tinggi.

Di antara pepohonan, burung-burung tampak beterbangan, saling berkejaran, mencari makan, dan sesekali beratraksi lincah di sela ranting dan dahan.

Di bawahnya, lalu lalang manusia, namun seperti tak dihiraukannya. Mereka tetap lantang bernyanyi merdu menyumbang lagu, seolah tak terganggu.

Ada burung yang lumayan familiar karena acap bersua, macam derkuku atau tekukur (Streptopelia chinensis), kutilang (Pycnonotus aurigaster), dan burung gereja (Passer montanus).

Itu tak seberapa, masih banyak lagi spesies burung yang ada. Bahkan, koloni burung paruh bengkok, seperti betet biasa (Psittacula alexandri) pun terlihat berkeliaran di sana.

"Tet... tet...," suara khas monoton nan nyaring dari spesies yang terakhir disebut, berwarna dominan hijau daun dengan rona merah muda di dada ini, membuatnya mudah dikenali.

Hiburan sederhana, tapi mengasyikkan. Melihat habitat mereka yang bertahan, di sela himpitan beton-beton bertingkat dan kondisi udara Ibu Kota yang kian tak bersahabat.

Di tengah gencarnya pembangunan ala kota metropolitan, Jakarta rupanya masih menyisakan ruang bagi habitat beberapa spesies burung untuk bertahan hidup meski tak seberapa luasnya.

Ady Kristanto dari Jakarta Birdwatcher Society (JBS) mencatat ada 129 spesies burung yang hidup di ruang-ruang terbuka hijau (RTH) di Jakarta. Enam di antaranya berstatus hampir terancam punah.

Enam spesies itu, bubut jawa (Centropus nigrorufus), jalak putih (Sturnus melanopterus), cerek jawa (Charadrius javanicus), cikalang christmas (Fregata andrewsi), bangau bluwok (Mycteria cinerea), pecuk ular asia (Anhinga melanogaster).

Adaptasi ekosistem

Data yang dihimpun JBS bukan berdasarkan pendekatan populasi atau jumlah, melainkan spesies. Data ini diperoleh dari pengamatan langsung spesies di 19 RTH di Jakarta.

Sebut saja, Suaka Margasatwa Muara Angke, Hutan Kota Srengseng, Hutan Lindung Angke Kapuk, Menteng, Kebayoran, Taman Wisata Alam Angke Kapuk, Taman Margasatwa Ragunan.

Lainnya, Buperta Cibubur, Hutan Kota Kemayoran, kawasan Monas, Buperta Ragunan, Tebet, Ancol, Kali Pesanggrahan, Manggala Wanabakti, Senayan, bantaran Ciliwung, Hutan Kota UI, dan Situ Babakan.

"Kami melakukan pengamatan langsung di 19 RTH ini. Meski sama-sama di wilayah Jakarta, karakter spesiesnya belum tentu sama. Misalnya di Monas, Menteng, sama Muara Angke," jelas Ady.

Habitat burung di RTH yang ada di perkotaan boleh jadi sama, tetapi begitu terdapat danau, sungai, apalagi mangrove di dalamnya, akan terlihat jelas beda spesies penghuninya. 

Untuk bertahan hidup, setiap spesies harus mampu beradaptasi, termasuk dari pola makan. Spesies yang hidup di RTH di Jakarta pun sudah menyesuaikan diri mencari makan dari pohon seadanya.

Boleh jadi, burung-burung selama ini tak terlalu menyukai pohon trembesi, tetapi di Monas yang dipenuhi trembesi ceritanya lain lagi. Burung-burung pemakan biji menyantap buah trembesi karena tak punya pilihan lagi.

"Adanya pohon trembesi, mau gimana lagi? Mau enggak mau, mereka beradaptasi. Sesekali, mereka cari beringin yang buahnya lebih manis," kata jebolan Fakultas Biologi Universitas Nasional Jakarta itu.

Editor: Rizma Riyandi

Tags

Terkini

Denda Prokes PPKM di Jakarta Capai Rp16 Juta Sehari

Minggu, 19 September 2021 | 13:20 WIB

Jelang PTM 1.500 Sekolah, Wagub DKI Beri Pesan Ini

Kamis, 16 September 2021 | 15:45 WIB

Polisi Amankan Rumah Pembuat Pil Ekstasi di Johar Baru

Kamis, 16 September 2021 | 14:33 WIB
X