Benarkah Corona Varian Delta AY.4.2 Lebih Berbahaya? Ini Faktanya

Firda Puri
- Senin, 8 November 2021 | 13:11 WIB
Ilustrasi  (Pixabay)
Ilustrasi (Pixabay)

TEBET, AYOJAKARTA - Malaysia baru saja mendeteksi dua kasus sub-varian Delta Covid-19 atau Delta plus AY.4.2. Varian Delta plus tersebut terdeteksi pada 2 warga negara Malaysia yang baru saja pulang dari Inggris.

Varian Delta plus AY.4.2 ini sempat dikhawatirkan membahayakan dan lebih menular daripada varian Delta aslinya. Tapi, nampaknya varian Delta plus ini tidak mungkin menyebabkan peningkatan kasus atau memungkinkan virus menghindari sistem kekebalan. 

Para ahli mengatakan varian Delta tetap menjadi perhatian utama, sehingga terus menyerukan langkah-langkah protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran yang lebih luas.

Langkah-langkah pencegahan ini termasuk pemberian vaksin Covid-19 pada orang-orang yang memenuhi syarat, mempercepat distribusi suntikan booster vaksin Covid-19, meningkatkan pengobatan dan antibodi monoclonal terhadap virus corona Covid-19.

Selain itu, para ahli juga menyerukan tes Covid-19 secara acak untuk mendapatkan sampel dan memastikan orang-orang patuh terhadap standar protokol kesehatan selama pandemi virus corona.

Ahli virologi molekuler, Dr Vinod Balasubramaniam dari Jeffrey Cheah School of Medicine and Health Sciences di Monash University Malaysia mengatakan sekarang ini belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa varian Delta plus lebih daripada varian Delta aslinya.

Dalam kata lain, tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa varian Delta plus ini bisa menyebabkan infeksi parah atau kematian yang lebih tinggi serta meningkatkan kemampuannya menghindari antibodi yang diberikan melalui vaksin Covid-19.

Sub-varian baru ini dibedakan oleh 2 mutasi pada protein lonjakannya, yang disebut Y145H dan A222V. Ia mengatakan tidak ada mutasi dalam domain pengikatan reseptor, yang merupakan bagian dari lonjakan protein yang mengikat reseptor tertentu pada sel manusia.

"Sebagian besar peneliti global juga setuju bahwa varian Delta plus ini tidak perlu menjadi kekhawatiran, meskipun lebih menular," kata Dr Vinod dikutip dari New Straits Times.

Halaman:

Editor: Firda Puri

Sumber: Suara.com

Tags

Terkini

Kenali Gejala Kekurangan Vitamin dan Mineral

Minggu, 1 Mei 2022 | 09:04 WIB

Waspadai, Ini Ciri Kanker Ovarium pada Perempuan

Sabtu, 23 April 2022 | 17:00 WIB

Wah Ngeri! Ini Dampak Negatif Kurang Gerak

Sabtu, 23 April 2022 | 15:00 WIB

Ini 7 Ciri Anak Jenius dan Cerdas Sejak Bayi

Senin, 21 Maret 2022 | 19:00 WIB

Yuk! Kenali Gejala Hipertensi Sejak Dini

Selasa, 8 Maret 2022 | 07:30 WIB

Tips Antisipasi dan Cegah DBD di Lingkungan Anda

Sabtu, 5 Maret 2022 | 13:30 WIB

Ini Beda Gejala DBD dan Covid Varian Omicron

Rabu, 2 Maret 2022 | 15:00 WIB

Ini Tanda dan Gejala Menopause pada Perempuan

Sabtu, 26 Februari 2022 | 19:00 WIB

5 Tips Mendidik Anak Beranjak Remaja yang Keras Kepala

Sabtu, 26 Februari 2022 | 11:30 WIB

Ini 7 Efek Samping Vaksinasi Booster Covid-19

Rabu, 23 Februari 2022 | 19:00 WIB

Simak! 7 Makanan untuk Tingkatkan Kesuburan

Sabtu, 29 Januari 2022 | 14:00 WIB

Simak! 4 Jenis Minuman Pengusir Kantuk Selain Kopi

Sabtu, 29 Januari 2022 | 12:48 WIB
X