Peneliti Temukan Fakta Baru Soal Saluran Kuno Era Belanda di Bogor

- Kamis, 14 Oktober 2021 | 17:34 WIB
Peneliti Temukan Fakta Baru Soal Saluran Kuno Era Belanda (Yogi Faisal)
Peneliti Temukan Fakta Baru Soal Saluran Kuno Era Belanda (Yogi Faisal)

BOGOR TENGAH, AYOJAKARTA - Peneliti dan kajian soal penemuan terowongan kuno era Belanda yang berfungsi sebagai drainase air terus dilanjutkan. 
 
Terakhir, tim kajian saluran yang terdiri dari peneliti Universitas Pakuan, Balai Arkeologi Bandung, Bogor Historia, dan Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Bogor, kembali melakukan survei ke lokasi penemuan terowongan kuno tersebut.
 
Kepala Balai Arkeologi Provinsi Jawa Barat, Deni Sutrisna mengatakan, saluran air yang membentuk setengah lingkaran dari susunan batu bata merah tersebut diperkirakan dibangun sebelum Stasiun Bogor.
 
Hal tersebut lantaran kontruksi dan bahan bangunan yang digunakan memiliki umur yang lebih tua jika dibanding dengan Stasiun Bogor yang dibuat di tahun 1881.
 
Menurutnya, terowongan kuno era Belanda yang berfungsi sebagai saluran air itu terbentang di bawah Jalan Nyi Raja Permas sampai Jalan MA Salmun. Diduga saluran air tersebut dahulu berfungsi sebagai pembuangan air di seputar kawasan Stasiun Bogor dan Taman Wilhelmina atau Taman Topi. 
 
"Terowongan kuno era Belanda ini berfungsi sebagai saluran air. Selain itu, saluran air ini berfungsi sebagai filter air, agar air yang mengalir ke sungai sudah bersih dan tidak kotor. Karena kami menemukan seperti kolam retensi untuk menyaring dan membersihkan air," katanya, kepada awak media Kamis 14 Oktober 2021.
 
Dari hasil pengamatan di lapangan, saluran air setinggi 2,8 meter itu membentang dari arah Timur, Barat dan Selatan, kemudian menyatu di satu titik.
 
Selanjutnya, saluran air itu mengarah ke sebuah bangunan berbentuk kotak dengan kedalaman diperkirakan mencapai 2,5 meter dan lebar 6 meter. Bangunan itu disinyalir adalah kolam retensi. 
 
"Informasi dari petugas, ada titik temu dari saluran-saluran air. Saluran-saluran ini bertemu di satu titik dan mengarah ke kolam retensi," paparnya.
 
Menurutnya, kolam retensi kala itu diduga berfungsi untuk memfilter air limbah rumah tangga dan aktivitas lainnya sebelum dibuang ke Sungai Cipakancilan. 
 
"Betapa hebatnya dulu orang Belanda, mereka sudah berpikir bahwa kotoran limbah itu sebelum masuk ke sungai harus dalam keadaan bersih airnya agar tidak mencemari sungai," pujinya.
 
Deni menjelaskan, di era kolonial sebelum mendirikan fasilitas publik seperti stasiun maupun taman, orang Belanda selalu memerhatikan dampak lingkungan di masa mendatang. Karena itu, mereka lebih dulu membangun saluran air dan kolam filter yang berfungsi untuk mencegah banjir juga terjadinya pencemaran air.
 
"Orang belanda sudah memikirkan ke depan. Ini terbukti di beberapa stasiun kereta api yang kami temukan seperti di Sumatera juga demikian, oleh Belanda dibangun saluran air mumpuni untuk mencegah banjir dan lainnya," kata dia.
 
Namun sayangnya, di dalam saluran air ini sebagian besar sudah tertutup sedimentasi. Begitu pula kolam retensi yang berada dekat dengan depo Stasiun Bogor sudah tertutup pondasi bangunan ruko.
 
Dirinya berharap kepada jajaran pemerintah, saat melakukan pembangunan dan pengembangan wilayah agar lebih dahulu melakukan kajian secara matang. Agar peninggalan-peninggalan bersejarah tidak hilang akibat pembangunan dan pengembangan wilayah.
 
"Saya harap kedepan pemerintah lebih memperhatikan betul sejarah yang ada di suatu wilayah. Jangan sampai mengorbankan sejarah dalam pengembangannya wilayah," tutupnya

Editor: Husnul Khatimah

Tags

Terkini

Sebanyak 5.392 Anak di Kota Bogor Alami Stunting

Rabu, 27 Oktober 2021 | 09:51 WIB

Kasus Covid-19 di Kota Bogor Tinggal 18 Pasien

Selasa, 26 Oktober 2021 | 13:21 WIB

Soal Glow Kebun Raya Bogor, Ini Kata Bima Arya

Selasa, 26 Oktober 2021 | 09:08 WIB
X