Sungai Cidurian Sering Meluap dan Sebabkan Banjir, Ternyata Ini Sebabnya!

- Rabu, 15 September 2021 | 14:35 WIB
Akses jembatan warga sekitar terputus akibat banjir bandang dari luapan aliran Sungai Cidurian (Yogi Faisal)
Akses jembatan warga sekitar terputus akibat banjir bandang dari luapan aliran Sungai Cidurian (Yogi Faisal)
KABUPATEN BOGOR, AYOJAKARTA - Badan Informasi Geospasial (BIG) akhirnya merilis hasil investigasi soal penyebab utama banjir lintasan yang menerjang empat kecamatan di wilayah barat Kabupaten Bogor akibat luapan aliran Sungai Cidurian pada Senin 6 September 2021 lalu. 
 
Empat kecamatan yang kerap dihantam banjir bandang Sungai Cidurian yakni Kecamatan Nanggung, Cigudeg, Sukajaya dan Kecamatan Jasinga.
 
Koordinator Bidang Pemetaan Kebencanaan dan Perubahan Iklim BIG Ferrari Pinem dalam keterangan tertulisnya menjelaskan, berdasarkan analisa citra satelit berkala didapatkan fakta bahwa telah terjadi perubahan alur sungai di Desa Kalongsawah, Kecamatan Jasinga pada 2020.
 
Hasil citra temporal pada 2019 menggambarkan adanya perubahan aliran signifikan dalam rentang Desember 2019 sampai Agustus 2020.
 
"Terdapat alur sungai baru hasil percabangan Sungai Ci Durian, yang memotong area sawah dan pemukiman warga di sekitar Sungai Ci Durian," katanya dalam keterangan tertulis yang diterima ayobogor.com Rabu 15 September 2021.
 
Analisis Spasial lanjutan dilakukan sebagai pendekatan dalam memahami proses yang terjadi pada perubahan alur Sungai Ci Durian. Berdasarkan pendekatan bentang lahan, area perubahan alur sungai berada pada wilayah Alluvial Plain (Dataran Aluvial). Bentuk lahan ini dicirikan dengan kemeringan lereng relatif datar, lembah yang melebar, dan alur sungai yang bermeander.
 
"Dataran Aluvial disusun oleh material sedimen dari proses pengikisan pada bagian hulu, kemudian tertransportasi dan terendapkan. Material sedimen tersebut belum terkompaksi sempurna dan sedimentasi masih terus berkembang pada bentuk lahan tersebut. Selain itu, wilayah yang datar kerap kali mengalami banjir pada periode tertentu," ujar dia. 
 
Selain pemetaan lewat citra satelit, BIG juga melakukan pengamatan langsung di lapangan. Menurutnya, aliran sungai baru tersebut disebabkan bendungan irigasi yang diduga jebol karena tidak kuat menahan debit air.
 
Aliran sungai yang awalnya kecil, seiring waktu semakin membesar karena proses sedimentasi atau pengendapan yang terjadi terus menerus.
 
"Pengendapan membentuk lekukan yang semakin tajam dan menyumbat aliran. Akibatnya, aliran sungai terhambat hingga menjadi mati. Sungai mati ini akan menjadi danau tapal kudabatau Oxbow Lake," jelasnya.
 
Kata dia, pengendapam terjadi akibat material longsor terbawa arus dari daerah hulu sungai, terutama saat terjadi longsor besar di Sukajaya dan sekitarnya pada awal 2020.
 
"Di daerah hulu seperti Kampung Urug di Sukajaya masih banyak ditemukan sisa material longsor. Besar kemungkinan material ini terbawa sungai dan terendapkan di hilir, terutama wilayah yang mengalami penurunan gradien sungai," katanya.
 
Ferrari menjelaskan jika perlu ada langkah antisipasi mitigasi pada beberapa wilayah pemukinan di Desa Kalongsawah. Bahkan, dia memprediksi wilayah tersebut bisa hilang jika tidak dilakukan penguatan mitigasi kebencanaan.
 
"Pengerukan sedimentasi bisa dilakukan, terutama di daerah aliran sungai yang mengalami penyumbatan. Tapi semua upaya perlu didiskusikan dengan pihak-pihak dan instansi agar efektif dan efisien," katanya. 

Editor: Firda Puri

Tags

Terkini

Dua Ruang Kelas SD di Bogor Tiba-tiba Ambruk

Kamis, 16 September 2021 | 17:42 WIB

Ganjil Genap Puncak Kembali Diberlakukan Pekan ini

Kamis, 16 September 2021 | 12:19 WIB
X