Curhatan Petani Ciwidey, Pusing Pesanan Seret Gara-gara Corona

- Senin, 24 Agustus 2020 | 21:06 WIB
Petani di Desa Lebak Muncang, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, merasakan dampak dari pandemi Covid-19. (Ayobandung/Eneng Reni)
Petani di Desa Lebak Muncang, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, merasakan dampak dari pandemi Covid-19. (Ayobandung/Eneng Reni)

BANDUNG, AYOJAKARTA.COM -- Sejak pagi buta, aktivitas masyarakat di Desa Lebak Muncang, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung tak terlihat berbeda dari biasanya. Mayoritas masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari hasil tani sayuran itu telah sibuk untuk memanen hasil ladang.

Dengan camping atau topi, sepatu bot, dan sarung tangan, mereka cekatan memanen sayuran untuk segera dipasarkan. Memasuki waktu siang, hasil panen biasanya mereka kumpulkan untuk dijual ke pedagang lokal atau ke pasar hingga didistribusikan ke sejumlah daerah.

Namun sejak pandemi virus Corona menghantam Indonesia pada awal Maret lalu, roda perekonomian para pertanian hortikultura di kecamatan Ciwidey sedikit tersendat. Kementerian Pertanian mengklaim kepastian stok bahan baku pokok pangan aman hingga Agustus 2020. Sayangnya, dari semua kampanye itu tidak ada informasi dampak wabah covid-19 terhadap nasib perekonomian para petani.

Realitasnya, para petani hortikultura menjerit karena hasil panen yang melimpah tidak dibarengin dengan besarnya permintaan pasar saat masa pandemi. Kendala para petani ini terletak pada distribusi hasil panen yang terhambat sejak pembatasan sosial skala besar (PSBB). Hal ini menjadi salah satu pemicu yang mengancam keberlangsungan usaha pertanian.

Petani sayuran Desa Lebak Muncang, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, Ayi (55) mengatakan penurunan omzet terjadi sejak diberlakukannya pembatasan pasar akibat penyebaran covid-19. Imbasnya sejumlah konsumennya membatasi pemesanan hingga lebih dari setengahnya.

"Turun semua sayuran semua, lemah lah. turunnya setengahnya, ada 60%-an Turunnya drastis," kata Ayi saat berbincang dengan Ayobandung.com.

Ayi yang biasanya memasok sayuran ke sejumlah pasar induk di Jawa Barat hingga Sumatera itu juga kian meringis lantaran keterbatasan distribusi hasil panennya. Bagaimana tidak? Dirinya kini hanya bisa menyuplai ke satu pasar lantaran adanya penurunan permintaan.

"Biasanya bapak kirim ke Sukabumi, Cipanas, Lampung, Caringin, sekarang cuman Banjaran aja. Makanya turun banget karena cuma satu pasar," katanya.

Biaya Tak Sebanding

Halaman:

Editor: Budi Cahyono

Tags

Terkini

Yamaha Berikan Diskon Servis di Bulan September Ceria

Jumat, 10 September 2021 | 17:23 WIB

Beli Yamaha Gear 125 Hemat Hingga Rp 3,5 Juta

Jumat, 10 September 2021 | 17:15 WIB

Performa dan Rencana Strategi bank bjb syariah 2021

Senin, 6 September 2021 | 15:57 WIB
X