Manfaatkan Limbah Kayu dan Kaca, Warga Tasik Ciptakan Gitar Bernilai Seni Tinggi

- Sabtu, 27 Juni 2020 | 16:54 WIB
Heri Heryanto tengah menyelesakan gitar pesanan. (Ayotasik/Irpan Wahab)
Heri Heryanto tengah menyelesakan gitar pesanan. (Ayotasik/Irpan Wahab)

TASIKMALAYA, AYOJAKARTA.COM -- Di tangan Heri Heryanto yang akrab disapa Meeng, warga kampung Raweuy RT 16/4, Desa Wargakerta, Kecamatan Sukarame, Kabupaten Tasikmalaya limbah kayu, kaca dan tripleks bisa disulap menjadi gitar akustik bernilai seni tinggi. Hal ini mulai dilakukan sejak tahun 1998 oleh pria kelahiran 2 Juli 1973 tersebut.

Ditemui Ayotasik.com di bengkel gitar yang diberi nama Tilazo Pantoza, Heri menceritakan kisahnya dalam membuat sebuah gitar. Dimulai tahun 1998, Heri yang kala itu menyukai musik mulai berkeinginan mempunyai sebuah gitar. Namun karena tidak mempunyaj uang cukup, keinginan membuat gitar sendiri pun muncul.

"Akhirnya saya belajar ke mana-mana, termasuk ke Bandung karena ada kakak saya ngasih tahu kalau dekat rumahnya ada yang suka bikin gitar. Saya kesana, tapi saya tidak dikasih ilmu cara buatnya, " kata Heri, Sabtu (27/6/2020).

Karena tidak mendapatkan ilmu pembuatan itu,  kata Heri, ia pernah berhenti untuk belajar dan memilih profesi lain sebagai jalan hidup. Ia pernah menjadi montir sepeda motor dan crew rumah produksi di Jakarta.

Namun kecintaannya pada dunia musik, Heri pun kembali menekuni pembuatan gitar secara otodidak. Mulanya, ia belajar memperbaiki gitar teman atau tetangga yang rusak. Pada tahun 2000, ayah 4 anak itu pun memanfaatkan limbah kayu dan triplek bekas pintu untuk dijadikan sebuah gitar.

"Alhamdulilah gitarnya jadi, dari situ saya ada inspirasi memberi nama bengkel saya Tilazo Pantoza atau kata sundanya tilas panto, " ucap Heri sambil tertawa lepas.

Kesuksesan membuat gitar dari pintu bekas itu akhirnya menjadikan niat Heri untuk menjadi pengrajin gitar pun semakin memuncak. Baru tahun 2014 lalu, Heri memfokuskan menekuni pembuatan dan perbaikan gitar untuk dijadikan mata pencaharian.

Heri menambahkan, dalam membuat sebuah gitar, ia tidak jarang memanfaatkan limbah yang ada di sekitar, mulai dari limbah kayu, triplek dan kaca. Bahkan dalam proses pembuatan gitar, ia lebih banyak menggunakan cara manual, seperti menghaluskan dan meratakan kayu sebagai bahan bodi gitar menggunakan pecahan kaca.

"90 persen manual, pakai kaca kalau untuk meratakan kayu. Kayu Mahoni sebagai bahannya kadang beli kadang ada yang ngasih," ucap Heri.

Berbicara soal produksi, lanjut Heri, ia tidak membuat gitar setiap hari. Namun dikerjakan setelah adanya pesanan. Pengerjaan sendiri tergantung pada permintaan pemesan. Mulai dari gitar berbahan kayu semua atau campuran tripleks dan kayu.

Harganya pun beragam sesuai dengan bahan, jenis dan model. Heri membandrol guitar hasil tangannya itu mulai dari Rp600 ribu hingga Rp5 juta per unit. Sosial media pun dijadikan alat atau media promosi gitar hasil ciptakannya tersebut.

"Ada dari Lampung, Bogor hingga Bali. Mereka tahu rata rata dari facebook dan sosial media lainnnya," ujar Heri. (Irpan Wahab)

Editor: Budi Cahyono

Tags

Terkini

Yamaha Berikan Diskon Servis di Bulan September Ceria

Jumat, 10 September 2021 | 17:23 WIB

Beli Yamaha Gear 125 Hemat Hingga Rp 3,5 Juta

Jumat, 10 September 2021 | 17:15 WIB

Performa dan Rencana Strategi bank bjb syariah 2021

Senin, 6 September 2021 | 15:57 WIB
X